Siakap Keli
Gambar : Google

”Sudah Terlalu Banyak Dosa Saya,” Sebak, Kisah Benar Iktibar Dari Serangan Masjid Di New Zealand Ini Menyentuh Emosi

Artikel ini diolah & diterbitkan ke Siakap Keli dengan kebenaran dari sumber asal.

Seringkali Allah datangkan ujian sebagai hikmah kepada hambanya. Siapa tahu, daripada ujian itu adanya hidayah Allah kepada semua hambanya yang terpilih.

Seperti perkongsian daripada seorang individu,  Yuhanis Azam, di laman sosial facebooknya yang ternyata menyentuh hati kita sebagai umat Islam.

Hidup di negara barat, rakannya lalai dan hanya menunaikan solat Jumaat dan solat Hari Raya sahaja. Memang benar, dugaan untuk seorang mukmin itu ternyata lebih hebat ketika berada jauh di bumi asing.

Namun, selepas tragedi tembakan serangan masjid di New Zealand, rupanya ada kisah iktibar yang boleh diambil. Ikuti perkongsiannya seperti di bawah. Mungkin boleh menjadi titik tolak kepada kita untuk menjalankan amanah sebagai seorang mukmin dengan sebaiknya.

Sejak semalam, hampir semua masjid di negeri-negeri Barat jemaahnya bertambah hingga 3 kali ganda.

Sebahagian umat Islam disana yang sebelumnya tidak pernah atau jarang terlihat di masjid, sejak maghrib semalam hingga subuh ini berebut datang menghadap kepadaNya.

Gambar : Google

Mereka memenuhi rumah Allah bukan sekadar untuk menunjukkan solidariti. Lebih jauh lagi, mereka sedang mengadu kepada Allah tentang kezaliman demi kezaliman yang terjadi sejak hari-hari sebelum ini, dengan kemuncaknya semalam di New Zealand.

Sekaligus mereka berdoa, berharap perlindungan, serta pasrahkan segalanya, yang akan terjadi hari ini dan di masa depan, kepadaNya.

Gambar : Google

Teman saya di Australia, yang selama ini hidupnya lalai, mendadak 3 waktu terakhir hadir di saf depan di masjid. Dia terlalu marah. Tapi dengan sebab kemarahan itu rupanya Allah turunkan hidayah.

Ibunya chatting dengan saya pagi tadi. Menangis-nangis bahagia anaknya solat maghrib, isyak dan subuh di masjid. Bahkan sejak semalam terus bermalam disana. Bertilawah dan banyak merenung. Padahal sebelum ini dia tidak kenal solat kecuali solat Jumaat dan Eid Fitri.

Si anak, dalam kemaksiatan hidup yang selama ini dijalani, ternyata masih menyimpan kecintaan pada Islam dan kaum muslimin. Makanya semalam itu tubuhnya bergetar hebat. Emosinya tidak terbendung, lalu memutuskan ke masjid, menjaganya hingga pagi bersama belasan Muslim lainnya.

Alasan kawan saya tadi sederhana saja :

“Serangan semlam kemungkinan besar akan menyebabkan bangkitnya ekstrimis-ekstrimis sayap kanan. Dan pasti rumah-rumah Allah yang akan menjadi sasaran. Jadi kita harus menjaganya hingga suasana reda.

Gambar : Google

Tambahan pula saya ini pendosa. Sudah terlalu banyak dosa saya. Kalau misalnya masjid ini diserang, semoga saya ada ketika itu. Lalu saya menghentikan serangan tersebut atau gugur di tangannya sebagai syuhada.

Mana saja yang menjadi takdir Allah, saya sudah siap sedia. Semoga dengan itu Allah mengampuni saya”

-Kiriman daripada seorang sahabat dari Indonesia yang berada di luar negara-

Sumber : Yuhanis Azam

Nuraiyshah A.L

Being a sleepy girl with a busy life is hard.

Kami Juga Bersosial

Sekiranya anda ingin mendapat berita dari Siakap Keli pada 'News Feed' media sosial, anda boleh ikuti kami di