Utama

Pilihan Editor

Ini Kisah Aku

Kisah peribadi rakyat Malaysia, dalam suara mereka sendiri.

Lihat semua kisah
Tiada Kategori

Sarat Makna, Ucapan Terakhir Selaku Pengarah JSJ Bukit Aman Curi Tumpuan

Hannah
alif lam mim
Gambar: BERNAMA

Sarat Makna, Ucapan Terakhir Selaku Pengarah JSJ Bukit Aman Curi Tumpuan

Dengan penuh ketenangan, Pengarah Jabatan Siasatan Jenayah (JSJ) Bukit Aman Datuk Seri Mohd Shuhaily Mohd Zain menutup tirai perkhidmatannya dalam pasukan Polis Diraja Malaysia (PDRM) dengan satu ucapan terakhir yang cukup menyentuh hati, bertajuk “Alif Lam Mim”.

Ucapan itu umpama refleksi penuh makna tentang erti perjuangan, amanah dan pengorbanan yang telah beliau pikul sepanjang perkhidmatan, sebuah perjalanan yang bukan mudah, namun ditempuh dengan tabah dan penuh tanggungjawab.

Diilhamkan daripada tulisan Profesor Nadirsyah Hosen dari Melbourne Law School, University of Melbourne, beliau seakan mengajak khalayak untuk merenung hikmah yang tersingkap menerusi nukilan indah itu.

Alif Lam Mim: Rahsia Langit yang Berbisik

Alif. Lam. Mim. Tiga huruf yang berdiri sendiri. Tanpa makna yang tersurat, tanpa tafsir yang mutlak, hanya Allah yang mengetahui.

Tetapi bukankah justru di sanalah letak keindahannya? Bahwa tidak semua yang indah harus dimengerti, tidak semua rahasia harus dipecahkan. Ada yang cukup diterima dengan hati, diimani dengan pasrah, dan dicintai tanpa harus sepenuhnya dipahami.

Betapa sering kita ingin memahami segalanya memaksa takdir agar berbicara, mendesak kehidupan agar memberi jawaban. Tetapi di awal wahyu, Allah mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar makna: ada hal-hal yang hanya bisa diterima dengan iman, ada jawaban yang hanya akan datang di waktu yang tepat, ada perjalanan yang harus ditempuh dengan ketundukan.

Maka, Alif Lam Mim bukan sekadar rangkaian huruf. Ia adalah pesan lembut dari langit: Percayalah, meski kau tak selalu mengerti.

Alif: Awal yang Harus Dijalani

Lihatlah Alif, tegak berdiri, kuat, seperti seseorang yang menjejakkan kaki di awal perjalanan. Ia tidak ragu, tidak bertanya, hanya melangkah dengan keberanian.

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada awal yang penuh tanda tanya. Kita tidak tahu apa yang menunggu di depan, kita tidak tahu apakah langkah kita benar. Tetapi seperti Alif, kita harus berani berdiri, bahkan ketika dunia belum memberi kepastian.

Karena keyakinan adalah awal dari segalanya.

Lam: Kelenturan dalam Perjalanan

Lalu ada Lam, huruf yang melengkung, seakan mengajarkan bahwa hidup tidak selalu lurus. Ada liku yang harus dilewati, ada tikungan yang membawa kita ke arah yang tak terduga.

Lam mengajarkan bahwa ada waktu untuk tegar seperti Alif, tetapi ada pula saatnya untuk tunduk, untuk bersabar, untuk menerima.

Karena tidak semua pertanyaan perlu jawaban saat ini. Tidak semua doa harus dikabulkan segera. Ada keindahan dalam menunggu, ada kemuliaan dalam berserah.

Mim: Pulang ke Pangkuan-Nya

Dan akhirnya, ada Mim, huruf yang melingkar sempurna, seperti lingkaran yang membawa kita kembali ke titik asal. Seperti ombak yang berlari ke pantai hanya untuk kembali ke laut. Seperti angin yang berembus ke segala arah, tetapi pada akhirnya menemukan jalannya kembali.

Mim mengajarkan bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan pulang.

Tak ada perjalanan yang sia-sia. Tak ada kehilangan yang benar-benar hilang. Apa yang pergi, jika memang ditakdirkan untukmu, akan kembali dalam bentuk yang lebih indah. Dan apa yang tak kembali, mungkin memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari perjalanan, bukan tujuan.

Alif, Lam, Mim: Cinta yang Tidak Perlu Dimengerti

Alif, Lam, Mim bukan sekadar huruf. Ia adalah bisikan lembut dari langit, mengajarkan kita untuk percaya meski tak selalu mengerti.

Seperti hidup, yang penuh rahasia tetapi selalu memiliki makna. Seperti doa, yang tak selalu mendapat jawaban, tetapi selalu didengar. Seperti cinta, yang tak selalu bisa dimiliki, tetapi tetap indah untuk dirasakan.

Maka, berjalanlah seperti Alif—berani memulai meski tak tahu ke mana arah akan membawa. Hadapilah hidup seperti Lam—sabar menerima setiap liku dan perubahan. Dan akhirnya, pulanglah seperti Mim—dengan hati yang utuh, dengan jiwa yang tenang, kembali kepada-Nya.

Karena pada akhirnya, semua pertanyaan akan terjawab di hadapan-Nya. Dan di situlah kita akan memahami bahwa setiap langkah, setiap air mata, setiap pencarian—semuanya telah membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Pada akhirnya, kita akan sampai. Pada akhirnya, kita akan pulang. Dan di hadapan-Nya, kita akan menyadari bahwa perjalanan ini selalu berada dalam genggaman kasih-Nya.

Mengakhiri ucapannya yang penuh makna, beliau dengan rendah hati memohon kemaafan atas segala kekhilafan sepanjang perkhidmatannya.

Beliau turut memohon doa, sokongan dan kepercayaan daripada semua pihak untuk terus kuat menggalas tanggungjawab dalam peranan baharunya sebagai Ketua Pengarah Agensi Kawalan dan Perlindungan Sempadan Malaysia (AKPS) Kementerian Dalam Negeri bagi tempoh dua tahun mulai 1 Julai 2025.

“Saya dengan ikhlas hati mendoakan agar PDRM terus maju untuk sama-sama kita melangkah ke hadapan dengan tekad dan kejujuran yang mendalam kepada tanah air tercinta.

“Tugas kita mungkin tidak mudah, tetapi semangat kita takkan luntur. Selagi negara ini berdiri, selagi itulah kita berkhidmat dan berbakti,” katanya mengakhiri ucapan.

BACA: Mohd Shuhaily Dilantik Ketua Pengarah AKPS Berkuat Kuasa Esok – KSN

Sumber: Malaysia Gazette